Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Peci Sang Proklamator


Soekarno ( 6 Juni 1901 - 21 Juni 1970 )
Presiden Soekarno suka berpenampilan rapi, keren, lengkap dengan pecinya. “Memakai tutup kepala adalah pakaian yang sesungguhnya dari orang Indonesia,” katanya dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Untuk penerbitan otobiografi sendiri, Soekarno mengatakan : “Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit. Melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu, banyak diantaranya yang mulai sembuh terasa perih.”

Pada 4 Juni 1927 Soekarno mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia. Ia mendirikan partai itu bersama beberapa pelajar yang baru pulang dari studi di Belanda. Pada 1920an kaum intelektual itu lebih suka membiarkan kepalanya terbuka, karena hal itu dianggap modern.

Soekarno lalu menganjurkan pemakaian peci di dalam partainya. Ia mengantisipasi konflik yang bisa timbul antara golongan tradisonal yang memegang adat memakai tutup kepala dan para terpelajar yang enggan memakainya.

Ia ingin partainya tetap kompak, tidak ada konflik karena tidak menghormati adat. Ia juga ingin menghormati para pejuang kemerdekaan. “Kita memerlukan simbol dari kepribadian Indonesia. Peci ciri khas bangsa Melayu. Mari kita angkat kepala tinggi-tinggi dan memakai peci sebagai lambang Indonesia merdeka!” katanya.

Sejak itu semua pria selalu memakai peci pada pertemuan partai. Peci yang semula hanya dikenakan golongan muslim, pada 1920an mulai menjadi ciri khas kaum nasionalis.

Bahkan para pelajar Indonesia yang sedang studi di Belanda ikut tren mengenakan peci. Mereka menggunting topi hitamnya agar berbentuk peci karena di Eropa sulit mendapatkannya.

Soekarno memakai jas dan peci untuk menunjukkan kesetaraan bangsa Indonesia dengan bangsa Belanda. Melalui peci Soekarno juga ingin menyatukan berbagai golongan. Sampai kini peci menjadi simbol nasional.

Di dalam rapat partai sambil mengenakan pecinya ia lantang mengatakan: “Janganlah kita melupakan tujuan kita. Para pemimpin berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat!”

Sabtu, 15 Agustus 2015

Melinda Gates

Melinda French Gates dan Bill Gates
Melinda Ann French, seorang ahli ilmu ekonomi dan komputer.
Kelahiran  Dallas, Texas, 15 Agustus 1964.

Dia bertemu dengan Bill Gates ketika ia mulai bekerja di Microsoft. Mereka menikah kemudian di tahun 1994 dan mendirikan Bill & Melinda Gates Foundation untuk meningkatkan kondisi kesehatan di seluruh dunia, menghapuskan kemiskinan di berbagai daerah termiskin di dunia, memajukan pendidikan, dan menyediakan teknologi untuk perpustakaan.

Pasangan ini menerima gelar kehormatan dari University of Cambridge pada 12 Juni 2009. Mereka menyumbang US$ 210 juta untuk mendirikan Gates Cambridge Trust pada tahun 2000.

Bill Gates, penemu Microsoft dan menjadi salah satu pria terkaya di dunia, selalu menyisihkan keuntungannya dalam jumlah besar untuk kegiatan sosial. Istrinya yang lahir pada 1964 memilih untuk mengisi hidupnya bagi kemanusiaan.

Buku biografi mereka antara lain ditulis oleh Greg Roza, Bill and Melinda Gates : Making a Difference: Leaders Who Are Changing the World (2014).

Selamat Beristirahat Dalam Damai, Pak Zuhal

Prof. DR. Zuhal, MSc ketika menjabat sebagai Direktur Utama PLN.
Jakarta, 15 Agustus 2015 : Prof. DR.Zuhal, MSc, mantan Menristek pada era Presiden Habibie dan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, membawa kenangan tersendiri bagi saya. Beberapa kali saya datang ke rumahnya untuk mewawancarainya.

Istrinya, Syahlina Latif, ingin memberikan hadiah ulang tahun yang ke-60 kepada Zuhal berupa buku biografi. Ramadhan KH (almarhum) dan saya kemudian diminta untuk mewujudkan kado istimewa itu. Demi menghargai istrinya, Pak Zuhal mau ditulis biografinya asalkan diberi tambahan beberapa makalah yang ditulisnya sendiri. Judulnya : Zuhal 60 Tahun: Jejak Perjalanan dan Pikirannya (Pustaka Sinar Harapan, 2002. 327 Halaman).

Zuhal lahir di Cirebon pada 5 Mei 1941. “Ia tidak mau memakai roki, pakaian tradisional Minang pada acara pernikahan kami,” kata istrinya. Meski begitu ia memperkenalkan CAD (Computer Aided Design) kepada para pengrajin bordir di Sumatera Barat.

Dengan komputer dapat diciptakan berbagai macam corak atau motif bordir. Ini membuat industri bordir di sana semakin berkembang. Zuhal juga menciptakan Zopplan (Zuhal Optimum Planning), piranti lunak untuk optimasi sistem pembangkit tenaga listrik. “Kami suka lagu First of May,” kata istrinya.

Pemain drum. Zuhal adalah mahasiswa Teknik Elektro ITB yang melanjutkan kuliahnya di Jepang. Selama di negeri sakura, ia sangat dekat dengan Sumitro Djojohadikusumo yang pada waktu itu bermukim di sana. Zuhal dan para mahasiswa Indonesia di Jepang menganggap Sumitro sebagai guru mereka.

Para mahasiswa itu juga aktif bermain band di sana dan Zuhal menjadi drummer. Zuhal taat menjalankan shalat, tapi juga ikut membantu bila ada perayaan Natal. Ia dan teman-temannya juga menggalang dana untuk pembangunan mesjid Salman di Bandung.

Selain dengan Sumitro, hubungan Zuhal dengan BJ Habibie juga sangat dekat. “Kami bersahabat dengan Pak Habibie dan Ibu Ainun. Kami pernah mengunjungi rumah mereka di Jerman,” cerita istrinya pada waktu proses penulisan biografi Zuhal.

Pendiri universitas. Zuhal menyumbangkan ilmunya di BPPT, menjadi Dirut PLN, menjadi Direktur Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi, dan menjadi pengajar di Fakultas Teknik Elektro di UI. Ia juga menjadi pendiri Universitas Al Azhar Indonesia.

Hari ini, 15 Agustus 2015, Prof.DR. Zuhal MSc., kembali kepada Allah. Ia dimakamkan di dekat makam Ainun Habibie di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Selamat beristirahat dalam damai, Pak Zuhal.

Rabu, 01 Juli 2015

Charles Goodyear, Berkawan Dengan Kegagalan


Charles Goodyear (29 Desember 1800 - 1 Juli 1860)Sumber foto : https://esllibrary.com/courses/80/lessons#
Banyak orang mengenal merk ban Goodyear, tapi sedikit yang tahu bahwa Charles Goodyear berkali-kali gagal dalam bisnisnya. Ia pernah sukses sebagai pengusaha toko perkakas di Amerika yang menjual berbagai peralatan pertanian. Tapi bisnisnya bangkrut karena industri rumahan yang memasok tokonya berhenti berproduksi.

Ia kemudian tertarik memulai bisnis karet ketika banyak perusahaan karet justru gulung tikar. Produk-produk karet yang ada pada waktu itu lembek, bau, dan lengket. Dengan menggunakan tongkat giling adonan roti milik istrinya, Goodyear bereksperimen menciptakan karet yang awet. Berbagai senyawa kimia dilarutkan pada karet untuk mengujinya.

Dalam kondisi kesulitan keuangan, ia mencoba ratusan eksperimen selama lima tahun sampai akhirnya ia berhasil membuat kantong karet anti air. Kantor pos di Boston, AS, kemudian memesan 150 kantong karet agar surat tidak basah oleh salju dan hujan pada waktu dikirim. Goodyear membuat kantong karet pesanan kantor pos.

Untuk sementara kantong-kantong itu disimpannya di gudang selama ia berlibur dengan keluarganya. Namun ketika ia pulang semua kantong itu sudah membusuk dalam gudang yang hangat. Asam nitrat yang digunakannya hanya melapisi permukaaan luar kantong, tapi bagian dalamnya membusuk.

Tahun 1839 adalah tahun yang sulit bagi keluarganya. Anak-anak Goodyear sampai harus meminta kentang dari kebun tetangga yang menjadi petani. Para tetangga memberi mereka susu gratis. Charles Goodyear hampir menyerah. Ia ditertawakan banyak orang ketika mendemonstrasikan karet yang baru diciptakannya yang diberi senyawa sulfur.

Dengan kesal, ia melemparkan potongan karet-sulfur itu ke perapian di dekatnya. Tak disangka, karet itu tidak menjadi lembek atau meleleh melainkan justru menjadi seperti kulit. Goodyear menyadari, diperlukan proses panas untuk membuat karet menjadi awet.

Ia menamakan proses ini vulcanization, diambil dari nama dewa api bangsa Romawi, Vulcan. Sekarang sulit membayangkan kehidupan tanpa karet dari Goodyear. Tidak ada mobil, sepeda, pesawat terbang, sepatu olahraga, sandal, dan sebagainya.

Buku biografinya ditulis oleh  P. W. Barker, Charles Goodyear, Connecticut Yankee And Rubber Pioneer: A Biography (2007).